Sekalipun seni kontemporer ataupun postmodernisme dan modernism merupakan seni-seni baru yang lahir di era globalisasi, sederet kekinian yang mewarnai sepak terjang seni tidak bisa lepas dari seni tradisional, bisa dikatakan mereka lahir dari rahim seni terdahulu yaitu seni tradisional. Seni tradisional juga merupakan sumber dari paham yang ada. Jika ditinjau memang gesekan gravitasinya berbeda dengan seni kekinian, seni kekinian atau kontemporer nama seniman disertakan pada karyanya, seni dipresepsi sebagai semiotika.
Detail seni kontemporer karya seniman-seniman populer bisa kita lihat di Edwin’s Gallery, penggebrak lahirnya Indonesia contemporary art gallery dan kinetict art yang meyuguhkan berbagai macam karya seni kekinian. Seni kekinian atau seni kontemporer memiliki prespektif realita seluruh aspek kehidupan, terutama aspek sosial-politik cenderung lebih banyak diangkat pada seni-seni kontemporer, semiotika menjadi senjata penyuara atas ketidaksetaraan yang terjadi tentunya mewakili banyak pihak yang memiliki presepsi tersebut terutama rakyat. Bisa dikatakan bahwa pembedanya hanya pada sistem dan pemaknaannya, terlepas dari hal itu seni kontemporer atau seni kekinian lainnya tetap tidak bisa lepas dari peran seni tradisional.
Seni tradisional merupakan ibu dari seni-seni baru yang saat ini lahir, dasar dari penerapannya merupakan warisan dari seni tradisional, jadi sekalipun seni-seni baru melahirkan seni-seni lainnya hakikatnya mereka tetap tidak bisa terlepas dari seni tradisonal yang juga harus lebih dihargai perannya yang masih diminati banyak orang.

No comments:
Post a Comment